Berdoalah
Ada anak bertanya pada Bapak nya, mengapa ini terjadi pada dirinya?
Anak ingin tahu, mengapa harus dia dalam peran utama perang dingin ini. Bapak tidak pernah mengatakan kalau medan perangnya hanya satu jengkal dari di mana anak itu berdiri. Bapak cuma beri tahu, suatu hari sang anak akan belajar sesuatu.
Anak tidak pernah mengerti bahwa ini adalah sekolah yang tidak terakreditasi. Anak tidak pernah mengerti dia sedang dilatih menjadi sesuatu.
Dari setiap luka, anak cuma tahu ini yang terburuk.
Bapak bilang, maka berdoalah.
Anak katakan, mana yang harus aku panjatkan?
Sedih ku,
atau marah ku?
Namun suatu hari, Bapak memanggil penyampai pesan.
Katakan pada anak, dia hampir sampai di tujuan. Suruh si Bapak.
Penyampai pesan tak bisa menahan, "Sampai di mana? Dari mana dan ke mana hendak dibawa dirinya?"
Namun sejalan dengan pertanyaan, beliau sudah sampai di pelabuhan anak menunggu.
Anak mendengar dengan baik dan mengangguk pelan. Meskipun kepalanya masih ikut menengadah bersama keraguannya.
Berterima kasih dia pada penyampai pesan. Mengatakan padanya bahwa surat untuk menulis pertanyaan-pertanyaan kepada Bapak sudah direlakannya ke lautan.
Membuat penyampai pesan tersenyum penuh arti. Sekarang dia mengerti apa maksud si Bapak.
Sampai di rumah dia buka pesan dari Bapak, bertanya-tanya apa isi nya. Kalau kata penyampai pesan ini mengenai dia yang hampir sampai di tujuan. Dia pun semakin penasaran.
Begini isi pesan Bapak,
Perang itu tak pernah dingin
Tak pernah bermedan
Dan tak pernah sejengkal
Anakku,
maka
berdoalah.
Comments
Post a Comment