Sahabat saya mau tunangan sama polisi
Dalam hitungan hari sahabat saya, Aisyah Jasmine Yogaswara, akan melaksanakan acara lamaran dan atau pertunangan dengan pasangannya, Tias Arifiandi Nugraha. Della dan saya rencananya akan ikut hadir di acara tersebut, sedangkan Sarita berhalangan hadir karena dia ada tugas penelitian ke Lombok. Singkat cerita saya sangat bahagia untuk kak Tias dan Aisyah, padahal awalnya saya selalu close minded dengan jenis pekerjaan kak Tias.
Iya.
Saya gak suka polisi.
Tentara.
Militer.
Dengan sebutan-sebutan yang melambangkan keamanan negara, nasionalisme, dan bagaimana pun orang menyebutnya.
Saya gak suka polisi.
Tentara.
Militer.
Dengan sebutan-sebutan yang melambangkan keamanan negara, nasionalisme, dan bagaimana pun orang menyebutnya.
Teman saya ini lucu, dia ketemu orang yang seringkali dia panggil "mas" sekarang ini bukan di tempat-tempat fancy, bukan di pertemuan blind dates, dan sebagainya. Mereka ketemu di Danau Situ Gintung. Saat itu bahkan saya gak tau ada ciptaan Tuhan bernama Tias Arifiandi Nugraha. Saya baru tau setelah beberapa hari di sekolah Aisyah sering menyebut-nyebut namanya dan bahkan katanya mau nonton bareng. Saya cuma iya-iya aja, tapi setelah saya tau pekerjaan kak Tias, saya bilang ke Ai kalo saya gak suka. Dan saya juga ngerti kalau saya di posisi dia, mana mungkin begitu aja saya ngikutin apa kata orang-orang di sekitar saya. Tapi saya tau, dan saya rasa Ai, Della, dan Sarita pun tau kalo I wil always be by my besties sides no matter what. Tapi saya merasa punya kewajiban mengingatkan Ai kalo jadi pasangan seorang polisi (atau apapun itu) gak mudah, kebanyakan miris dan deritanya (dalam opini saya). Kenapa?
Prioritas.
Mereka itu lelaki negara, tugas utama mereka ya melindungi negara. Keluarga itu nomor dua setelah negara. Logikanya, mereka banting tulang latihan fisik dan mental setiap hari bukan cuma untuk jadi kepala keluarga. Tapi untuk mengabdi kepada negara. Sayang, saya bukan wanita yang kagum dengan hal seperti itu. Pergilah kamu kerja, tapi saat saya butuh kamu, maka datanglah kamu. Berlaku juga untuk saya. Itu yang saya mau dari pasangan saya kelak dan saya tau seorang pengaman negara gak akan mampu untuk memenuhi kriteria yang saya tuntut. Saya gak menyalahkan mereka. Kriteria setiap orang kan beda-beda.
Mereka itu lelaki negara, tugas utama mereka ya melindungi negara. Keluarga itu nomor dua setelah negara. Logikanya, mereka banting tulang latihan fisik dan mental setiap hari bukan cuma untuk jadi kepala keluarga. Tapi untuk mengabdi kepada negara. Sayang, saya bukan wanita yang kagum dengan hal seperti itu. Pergilah kamu kerja, tapi saat saya butuh kamu, maka datanglah kamu. Berlaku juga untuk saya. Itu yang saya mau dari pasangan saya kelak dan saya tau seorang pengaman negara gak akan mampu untuk memenuhi kriteria yang saya tuntut. Saya gak menyalahkan mereka. Kriteria setiap orang kan beda-beda.
Pergi dinas gak sehari-dua hari.
Kalau posisinya saya masih sendiri, sendirian untuk waktu yang lama ya gakpapa. Tapi kalau sudah masuk sebuah hubungan, saya gak suka ditinggal lama-lama. Kecuali kalau dari awal emang udah janjian LDR atau long distance relationship, yaitu hubungan jarak jauh. Tapi kayaknya orang kayak saya gak bakal kuat LDR. Bukan, bukan saya mau selingkuh atau apa. Ya anggap saja saya belum nemu orang yang pas buat mengalahkan trust issues saya.
Kalau posisinya saya masih sendiri, sendirian untuk waktu yang lama ya gakpapa. Tapi kalau sudah masuk sebuah hubungan, saya gak suka ditinggal lama-lama. Kecuali kalau dari awal emang udah janjian LDR atau long distance relationship, yaitu hubungan jarak jauh. Tapi kayaknya orang kayak saya gak bakal kuat LDR. Bukan, bukan saya mau selingkuh atau apa. Ya anggap saja saya belum nemu orang yang pas buat mengalahkan trust issues saya.
Dan, belum tentu pulang.
Ini yang sedih. Iya, semuanya sudah ada yang mengatur. Tapi saya gak mau menyusahkan diri sendiri. Saya gak mau menambah kemungkinan untuk kehilangan seseorang bagi diri saya sendiri. Jadi, tidak, terima kasih.
Ini yang sedih. Iya, semuanya sudah ada yang mengatur. Tapi saya gak mau menyusahkan diri sendiri. Saya gak mau menambah kemungkinan untuk kehilangan seseorang bagi diri saya sendiri. Jadi, tidak, terima kasih.
Itu tiga alasan utama kenapa saya gak suka polisi (atau semacamnya). Terserah mau dibilang egois atau self centered. Tapi, semakin ke sini saya semakin banyak belajar kok. Bukan cuma dari bagaimana saya melihat jalannya hubungan kak Tias dan Aisyah, saya sekarang sampai pada tahap:
jangan lihat manusia dari atributnya, lihat manusia karena dia "manusia".
Lihat bagaimana dia bersikap, bagaimana dia berbuat, bagaimana dia dengan dirinya. Kak Tias dan sejumlah polisi (atau semacamnya) yang lainnya bukan lelaki negara, mereka adalah diri mereka sendiri.
Saya lihat bagaimana kak Tias datang ke rumah Aisyah membawa sekuntum bunga tapi ditinggalkan di depan pintu karena dia harus segera bertugas, dia mau bertugas tapi dia datang dulu ke kost-an pacarnya untuk naruh bunga. Saya dengar cerita bagaimana mereka harus sempat berpisah dan kembali lagi karena sama-sama tau kalau berpisah bukan yang mereka mau. Saya lihat bagaimana kak Tias memeluk Aisyah semalaman karena besoknya dia harus pergi Pendidikan Wanadri selama satu bulan lamanya. Saya dengar cerita bagaimana kak Tias mau mengurus kaki Aisyah yang luka-luka dan udah gak karuan demi mengurangi sakit pacarnya. Banyak kalau mau dijabarin.
Saya belajar kalau ketulusan seseorang ada di perlakuannya, bukan di pekerjaannya.
Saya belajar kalau ketulusan seseorang ada di perlakuannya, bukan di pekerjaannya.
Jadi, saya mau kasih selamat untuk kak Tias dan Aisyah yang berhasil melewati suka-duka jadi pasangan kekasih. Dan di tanggal 15 April 2017 ini insya Allah akan bertunangan. Walaupun saya gak ngerti kenapa tunangannya sekarang tapi kawinnya masih tar masih lama banget. Yang jelas kalau itu yang sahabat saya mau, saya dukung. Tugas saya kan hanya mengingatkan kalau ada yang perlu diingetin. Selama menurut Aisyah itu baik untuk dia dan menurut saya juga gak ada yang salah, ditambah ini juga termasuk ibadah dalam agama yang dia anut, ya ya sudah. Saya bahagia untuk mereka.
Eh, tapi. Jangan tanya "jadi sudah mau dind sama polisi (atau semacamnya)?" ya.
Saya masih ngeri, tapi saya mau kok belajar mengerti.
Asal saya nya mau :) he he he.
Lah kayak ada aja yang mau sama saya ya. Kayaknya kalau ada polisi (atau semacamnya) baca ini, saya dimusuhin deh. Bubai everibadi.
Saya masih ngeri, tapi saya mau kok belajar mengerti.
Asal saya nya mau :) he he he.
Lah kayak ada aja yang mau sama saya ya. Kayaknya kalau ada polisi (atau semacamnya) baca ini, saya dimusuhin deh. Bubai everibadi.
Saya minta doanya ya dari teman-teman untuk sahabat saya dan pasangannya, semoga lancar dari sebelum, saat, dan sesudah acara. Semoga kak Tias dan Aisyah selalu dalam kebaikan dan kebahagiaan, dan tidak lupa juga untuk selalu membaginya untuk orang-orang di sekitarnya.
Doain juga saya sama Della gak nyasar pas mau ke Jonggol.
Ini masih gak tau nih kita mau gimana kesananya wkwk.
Ini masih gak tau nih kita mau gimana kesananya wkwk.
Ya udah gitu aja.
Sekian dan terima kasih.
Love u Ai dan kak Ti.
Sekian dan terima kasih.
Love u Ai dan kak Ti.
Comments
Post a Comment