marriage? me?

Seperti judulnya, saya mau cerita bagaimana saya dan konsep menikah, di post ini.
Kepikiran nulis ginian ya tentu saja karena post saya yang sebelumnya membahas pertunangan sahabat saya, saya jadi mikir. Bagaimana dengan saya sendiri?

Kalau kata temen saya, Mega, "gue kadang2 suka bingung sm jalan pikiran lu tp ya namanya juga dinda wkwk" dia beneran ngomong gitu di chat line -_- karena Mega bingung sama rencana-rencana saya mengenai pernikahan dan anak di masa depan, saya jadi pengen cerita di blog. Ya kalau menurut saya sih gak ada yang salah, gak tau deh menurut orang lain.

Pernikahan
Bagaimana sih pernikahan di pemikiran Dinda?

Simple kok.

Saya tidak mau menikah.

Ekstrem ya? Haha. Tar dulu tar dulu, jangan shock gitu dong.
Saya perhalus deh.

Saya menghindari pernikahan.

Pelan-pelan ya saya jelasin kenapa.

Keturunan / Anak
Bagaimana sih keturunan / anak di pemikiran Dinda?

Saya ingin sekali punya anak, saya pernah bermimpi punya anak kembar 3 pasang; laki-laki dan laki-laki, laki-laki dan perempuan, perempuan dan perempuan. Atau seenggaknya kembar satu pasang; laki-laki dan perempuan. Atau seenggaknya lagi dari seenggaknya, gak usah kembar tapi paket komplit, laki-laki dan perempuan.

Tapi, saya gak mau hamil dulu. :)

Loh? HAHAHA.
Bingung ya? Iya saya juga.

Rencana saya, saya mau adopsi anak dulu minimal satu anak, terserah mau laki-laki atau perempuan.
Nah abis itu, terserah deh mau hamil apa gimana. Kalau bisa sih saya adopsi anak sebanyak-banyaknya. Itu lebih ke cita-cita sih.

Laki-laki kalau lihat ini mikir gak ya "Lah gila kali ni perempuan."
Saya ngerti pasti banyak laki-laki yang mikir saya aneh dan menghindari perempuan dengan pola pikir kayak saya. Ya jaman sekarang mikirin buat hidup keluarga sedarah aja bingungnya luar biasa, apalagi kalo adopsi-adopsi? Dan laki-laki mana sih yang gak mau punya keturunan darah dagingnya sendiri? Belum lagi kalau mikirin konflik "anak kandung-anak tiri" tar nya. Repot deh. Ini kenapa saya gak mau menikah dulu. Kasihan jodoh saya. Belum juga nikah, udah ribet banget cita-citanya wkwk. Selama ini sih saya belum nemu orang yang sepola pikir sama saya, ya gak penting juga sih, cuma seneng kan pasti kalau ada yang sepemikiran, siapa tau jodoh #lohlagi.
Saya mau adopsi karena saya mikir, dan mungkin ini rada klise, tapi lah ngapain saya hamil terus punya anak buru-buru kalo cuma karena ingin ada keturunan? Banyak anak-anak dari umur bayi sampai yang udah gede yang gak punya orang tua, mungkin ditinggal dari lahir, mungkin ditinggal setelah lahir, mungkin kepisah sama orang tuanya, dan banyak lagi. Banyak yang butuh "orang tua" tapi gak bisa punya "orang tua", saya butuh "anak" dan saya (mudah-mudahan) bisa punya "anak". Lihat kan perbedaannya? Saya bisa menjadi orang tua untuk mereka, setidaknya saya mau. Emang, akan sangat susah apalagi urusannya sama anak manusia. Tapi mereka sangat membutuhkan sosok "orang tua" jadi selama saya mau, bisa, dan mampu, kenapa gak? Seenggaknya saya mau jadi teman baik mereka, menyebarluaskan lebih banyak kebahagiaan.

Saya gak mau kejauhan mikir ke depan, takut gak kesampean. Tapi saya sadar diri saya sendirian mana mampu biayain anak, apalagi adopsi anak manusia itu gak murah dan gak mudah. Orang pendidikan, makan, dan lain-lain aja sampai sekarang masih dibiayain orang tua. Lagi-lagi kenapa saya menghindari pernikahan, untuk adopsi saya butuh kesehatan jasmani, rohani, dan finansial. Saya gak mau nanti pasangan saya bilang "ngapain sih adopsi-adopsi, kamu gak ada duitnya kan, tar adopsinya pake duit aku lagi" eh ya tolong sombong banget kalo beneran dia ngomong gitu :( jadi saya mau cari kesehatan JRF tadi dulu sampai saya mapan buat adopsi anak. Jadi saya gak nyusahin pasangan saya, saya tau diri, ini kemauan saya kok. Belum tentu doi setuju kan. Ya kalau nemu yang setuju sih saya bersyukur banget. Saya mau jadi calon istri dan calon ibu yang sebaik-baiknya, yang bisa jadi role model anak-anak saya kelak, jadi sebisa mungkin saya menghindari deh yang namanya bergantung sama orang lain sekalipun sama pasangan saya sendiri.

Nah sampai di situ urusan anak-meng-anak.
Apalagi ya alasan saya menghindari pernikahan?

Ahaha. Sombong dikit boleh ya,
Standard saya tinggi.
Bukan, bukan merendahkan.
Saya mau orang yang sebaik-baiknya, sepintar-pintarnya, semapan-mapannya. Ya seganteng-gantengnya juga boleh, tapi saya tar dibilang bm alias banyak mau wkwk. Siapa sih yang gak mau, coba? Lagi saya ingatkan, saya juga orang yang tau diri, saya masang standard tinggi tapi saya nya begini-begini aja ya impossibruh alias tidak mungkin dong ya. Saya juga lahir di keluarga yang mengedepankan ilmu, saya dibekali dan dijejali pendidikan dari kecil. Jadi ya wajar aja pemikirannya seperti ini. Jadi rencana saya, saya mau sekolah setinggi-tingginya dulu, cari pengalaman sebanyak-banyaknya, mencoba hal ini-itu sebelum beneran menikah, live my life to the fullest. Karena saya paham, pasangan saya juga berhak mendapatkan jodoh yang sebaik-baiknya.
Dan untuk melakukan itu butuh waktu yang gak sebentar, dan saya juga butuh bergerak lebih jauh dan lebih cepat, saya butuh belajar lebih banyak hal lagi, mencicipi lebih banyak pengalaman. Saya gak mau membuat itu semua terdengar mudah. Itu semua susah. Sangat susah, sampai-sampai saya sendiri juga sering ragu. Makanya saya mau fokus, saya gak mau menikah karena saya gak mau menduakan keluarga saya walaupun pada akhirnya pasti terduakan.

Ditambah lagi saya masih mau keliling dunia, masih mau jadi fangirl, masih punya keinginan-keinginan gila, masih mau sekolah di luar negeri dan hambur-hambur duit buat jalan-jalan, dan masih banyak lagi. Kasian jodoh saya nanti dia pusing kenapa pasangannya begini amat.

Jadi ya sama-sama memperbaiki diri aja dulu.
Toh, katanya, semua sudah ada yang mengatur. Kita bekerja keras saja dulu. Hasil tidak pernah mengkhianati usaha kok. Katanya.

Dari semua alasan, yang ini yang paling rumit sih menurut saya. Saya punya pola pikir yang berbeda mengenai keyakinan dengan orang-orang sekitar saya, karena lagi-lagi saya belum menemukan orang yang sepemikiran sama saya soal ini. Kemungkinan besar karena saya hidup di "sini", lingkungan saya bertolak belakang banget sama pola pikir saya, dan kalau saya share mungkin akan ada konflik wkwk. Jadi ya mungkin suatu hari nanti.
Intinya sih saya gak mau menikah karena jarang ada yang bisa menerima dan keep up sama pemikiran saya. Lagi-lagi, kasian. Takut gak kuat hidup sama saya wkwk. Tapi ya udah, bukan masalah kok. Dan emang seharusnya gak jadi masalah sih.

Ini alasan terakhir saya untuk gak mau menikah.
Hampir sama sih sama yang sebelum-sebelumnya, cuma ini lebih menginti aja.

Saya mau merasa cukup dulu dengan diri saya sendiri.

Saya mau jadi manusia seutuhnya dan sebaik-baiknya untuk diri saya sendiri, saya mau berbahagia dengan diri saya sendiri dulu. Saya mau merasa cukup dengan hanya bersama diri saya sendiri.

Aneh? Gak ah.

Saya mikir aja.
Gimana pasangan saya bahagia sama saya kalau saya sendiri gak bahagia sama diri saya sendiri?
Gimana pasangan saya merasa cukup memiliki saya seorang kalau saya sendiri belum merasa cukup dengan diri saya sendiri?
Gimana pasangan saya bisa mencintai saya kalau saya belum bisa mencintai diri saya sendiri seutuhnya?

Menikah, menurut saya, mungkin sekadar pergi ke Kantor Urusan Agama atau gereja atau semacamnya lalu ngurus surat atau minta dinikahkan. Semudah itu kok. Tapi yang bikin gak mudah adalah, menikah berarti setuju untuk bermasalah dengan satu sama lain untuk selama sisa hidup. Deal with their anger, deal with their snores, deal with their bad smells, deal with their clingy behavior, deal with their careless behavior, dan sebagainya. Gak selalu jelek kok, pasti ada baiknya, kita memilih pasangan kita karena dia baik untuk kita. Siapapun dia, darimana pun asalnya, apapun keyakinannya, apapun yang dia punya, bagaimana pun pola pikir dia, dan lain-lain. Saya harus bisa melihat keburukan dia sebagai kebahagiaan saya, tanpa ada paksaan atau tuntutan. Bagi saya, menikah semudah dan serumit itu.

Untuk melalui itu semua, saya merasa saya harus lebih banyak berbahagia dan bersyukur dengan diri saya sendiri.
Dan itu susah. Saya aja masih belajar kok.

Nah, jadi begitulah. Saya dan konsep menikah.
Rumit? Iya.
Repot? Tentu.
Mungkin? Itu yang saya gak tau.
Saya gak mau menikah, mungkin bagi sebagian dari kalian adalah pemikiran yang buruk, mungkin juga untuk sebagian lagi pemikiran yang baik. Atau biasa-biasa aja. Ya bebas. Kalau mau ngobrol juga boleh #lah #pengendiajakngobrol.

Tapi seenggaknya bagi saya sendiri itu adalah hal yang baik untuk saya, saat ini. Mungkin besok berubah, mungkin lusa atau beberapa bulan lagi. Gak ada yang tau kan.
Ya udah lah saya gak mau mikirin banget wkwk yang di depan mata juga belum tentu kelar kok. Semoga aja semuanya dilancarkan dan diberi kebaikan, last but not least, jangan lupa berbahagia.

Bubai!!!

Comments

Popular posts from this blog

마지막 The Last - Agust D (Min Yoongi/Suga)

That's okay // Tidak apa-apa

the art of living together