Bullying dari Rumah?
Di kehidupan sehari-hari, tanpa disadari orangtua bisa jadi merupakan pelaku bullying terhadap anak, lho.
Seringkali orangtua mengeluarkan komentar-komentar tanpa diminta sang anak.
"Menor amat sih"
"Celana nya terlalu ketat"
"Minyak wangi kamu bau nya nggak enak"
"Pantat nya ke mana-mana"
"Baju nya nggak ada yang lain? Jelek yang itu"
"Jangan nyanyi, suara mu nggak enak didengar"
......and the list goes on.
Hal ini dapat sangat mungkin menyebabkan tingkat insecurities (rasa tidak aman) pada individu semakin meningkat. Kenapa?
Rumah, terutama orangtua, seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seseorang. Tempat bersiap pergi dan kembali pulang. Namun, dikarenakan komentar-komentar tersebut, individu bisa jadi merasa tidak nyaman bahkan "terancam" bahkan pada orangtua-nya sendiri.
Selain adanya rasa tidak aman pada rumah sendiri. Di luar rumah, individu akan merasa tidak apa-apa atau tidak masalah apabila orang lain di lingkungan nya ikut mengomentari atau bahkan secara tidak langsung mengucilkan dirinya. Karena pada pola pikir nya, telah terbentuk pemikiran bahwa individu terpaksa terbiasa oleh komentar-komentar tersebut.
Tentu saja, orangtua hanya menginginkan yang terbaik bagi anak nya, dan menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, memang nya tidak ada cara yang lebih baik? Atau mungkin dapat dilakukan dengan penyampaian yang tidak bernada atau berkosa-kata merendahkan?
Dimulai dari rasa percaya diri individu yang dapat menurun drastis saat mendengar komentar tersebut. Apalagi apabila diterimanya terus-menerus, individu bisa jadi mempertanyakan dirinya sendiri tanpa henti.
"Apakah aku tidak pernah terlihat baik?"
"Harus kah aku berdandan tidak seperti diriku sendiri?"
"Kenapa mereka tidak menyukaiku?"
"Apakah aku tidak layak dicintai?"
"Kenapa mereka terus membenciku?"
Padahal pada kenyataannya, individu telah berusaha melakukan yang terbaik yang dapat dia lakukan.
Dari rumah, sudah tidak aman.
Pulang ke rumah, terpaksa nyaman.
Seringkali orangtua mengeluarkan komentar-komentar tanpa diminta sang anak.
"Menor amat sih"
"Celana nya terlalu ketat"
"Minyak wangi kamu bau nya nggak enak"
"Pantat nya ke mana-mana"
"Baju nya nggak ada yang lain? Jelek yang itu"
"Jangan nyanyi, suara mu nggak enak didengar"
......and the list goes on.
Hal ini dapat sangat mungkin menyebabkan tingkat insecurities (rasa tidak aman) pada individu semakin meningkat. Kenapa?
Rumah, terutama orangtua, seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seseorang. Tempat bersiap pergi dan kembali pulang. Namun, dikarenakan komentar-komentar tersebut, individu bisa jadi merasa tidak nyaman bahkan "terancam" bahkan pada orangtua-nya sendiri.
Selain adanya rasa tidak aman pada rumah sendiri. Di luar rumah, individu akan merasa tidak apa-apa atau tidak masalah apabila orang lain di lingkungan nya ikut mengomentari atau bahkan secara tidak langsung mengucilkan dirinya. Karena pada pola pikir nya, telah terbentuk pemikiran bahwa individu terpaksa terbiasa oleh komentar-komentar tersebut.
Tentu saja, orangtua hanya menginginkan yang terbaik bagi anak nya, dan menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, memang nya tidak ada cara yang lebih baik? Atau mungkin dapat dilakukan dengan penyampaian yang tidak bernada atau berkosa-kata merendahkan?
Dimulai dari rasa percaya diri individu yang dapat menurun drastis saat mendengar komentar tersebut. Apalagi apabila diterimanya terus-menerus, individu bisa jadi mempertanyakan dirinya sendiri tanpa henti.
"Apakah aku tidak pernah terlihat baik?"
"Harus kah aku berdandan tidak seperti diriku sendiri?"
"Kenapa mereka tidak menyukaiku?"
"Apakah aku tidak layak dicintai?"
"Kenapa mereka terus membenciku?"
Padahal pada kenyataannya, individu telah berusaha melakukan yang terbaik yang dapat dia lakukan.
Dari rumah, sudah tidak aman.
Pulang ke rumah, terpaksa nyaman.
Comments
Post a Comment