Jakarta Biennale 2017 #ArtsVenture

Ola!
Akhirnya saya memutuskan memberi tagar pada setiap post yang di mana saya akan bercerita mengenai petualangan saya dan kakak saya ke pameran atau tempat berbau seni, yaitu #ArtsVenture.

Well, petualangan saya masih terbilang sangat minim, terakhir saya pergi ke Bentara Budaya Jakarta (yang enggak kurang memuaskan dibandingkan Biennale), kalau mau baca petualangan saya ke Bentara Budaya Jakarta silahkan di klik: Goes To Bentara Budaya Jakarta #ArtsVenture

Nah kali ini saya pergi ke Jakarta Biennale. Di antara itu saya belum ke mana-mana, jadi ya minim banget kan. Tapi enggak apa-apa! Saya mau berbagi keseruan waktu saya pergi ke Biennale. Dan kali ini saya pakai Bahasa Indonesia, karena sebelumnya saya udah pakai Bahasa Inggris. Gantian lah ye. Asal jangan disuruh pakai Bahasa Korea, walaupun itu bahasa idola saya, tetep aje saya kagak bisa huehue. But I'd love to learn another languages tho.

Adanya event Jakarta Biennale, saya tau dari kakak saya, dia yang ngajak saya ke sana. Setelah baca-baca, Jakarta Biennale tahun 2017 ini punya konsep "Jiwa" dan Melati Suryodarmo sebagai artistic director nya. Warna dominannya ungu gitu, saya penasaran maknanya apa hm. Jadilah saya tentu saja dengan senang hati setuju ikut :) lokasinya di Gudang Sarinah, tadinya kakak saya mau naik motor boncengan berdua. Saya mikir.. Waduh gempor juga bokong cantikku kalo dari Ciputat ke Gudang Sarinah naik motor. Dan saya tipe orang yang kalo sehat dan kuat, plus cuaca bersahabat, kenapa enggak naik angkutan umum aja sih? Kan sekarang udah ada commuter line, enggak perlu panas-panasan naik angkot, macet-macet naik busway, dan sebagainya. Yah, mohon maap, saya mah bukan penggemar angkot, apalagi busway. Angkot masih oke lah, busway itu loh.. Kalo udah macet ampun-ampunan :(

Oke, oke. Balik ke topik.
Akhirnya kami naik commuter line dari Stasiun Jurangmangu, transit di Stasiun Tanah Abang, naik kereta yang ke arah Bogor, dan turun di Stasiun Duren Kalibata. Gampang kan?!
Dari Stasiun Duren Kalibata, tinggal naik ojek online (dalam bentuk mobil, karena waktu itu saya berdua sama kakak saya) ke Gudang Sarinah. Paling 10 menit udah nyampe (kalo enggak macet ye), alhamdulillah sih saya waktu itu enggak kena macet.

Naah nyampe di Gudang Sarinah, kami langsung jalan ke paviliun belakang, muter gitu, ngelewatin semacam kantin. Dan emang ternyata acaranya di paviliun belakang.
Di depannya, kami disuruh isi buku gitu pake nama, nomor telepon, sama e-mail kalo enggak salah. Terus kami harus nitipin tas kami, barang-barang yang boleh dibawa ke dalem cuma semacam dompet, telepon genggam, dan kamera. Akhirnya cuma itu yang kami bawa deh.

Pertama kali masuk, kami disapa sama tayangan hitam-putih tentang ritual mandi di lumpur gitu dari Jepang ya kalo enggak salah. Cuma sayangnya karena sebelahnya ada kayak potongan-potongan gambar pohon tumbang dalam warna hitam-putih gitu yang super gedeeeeeeee, ini tayangannya jadi 'oh ya udah' gitu terus langsung beralih. Mencuri pandangan banget deh itu, dan bawa vibes nya enak banget, kayak sunyi senyap.

kira-kira begini ya..



Nah ini giliran nyetok buat dp HAHAHA.
Enggak lah, saya aja enggak pernah pasang foto ini jadi dp :( mungkin nanti kalo udah enggak ada stock lagi hehe.













Nah setelah pembukaan yang sangat calm, ini karya-karya lainnya.




Saya personally suka dengan yang ini. Enggak tau juga ya kenapa.
Dan kata kakak saya sih, ini tadinya dipakai buat pertunjukan gitu di hari-hari sebelumnya di Biennale.




Jujur aja, di bagian ini tadinya saya bingung.
Karena ini tayangan bergerak namun diulang-ulang.
Mas yang sebelah kiri dia makan bunga-bunga yang dia pegang, dan yang kiri mukul kepalanya berkali-kali pakai tulang yang dia pegang.
Saya tadinya enggak ngerti, jadi saya enggak sedih. Ya dilihat dari peletakkan dan presentasinya sih seharusnya ini menggambarkan kemirisan perang gitu enggak sih? Tapi karena saya enggak paham ya gitu..
Abis dijelasin sama kakak saya, saya kayak "Ooh" #telat
Tapi yang satu ini bikin enggak bisa berhenti lihat sih, walaupun enggak ngerti juga. Tetep aja gitu ada keinginan berhenti dan merhatiin baik-baik.



Yang ini keren sih. Dibuat kayak goa-goa gitu, dan saya salut banget sama yang mengatur suasananya. Dapet banget, jadi bikin orang termangu dan "Wah.." sangat menikmati lah saya.
 



Iya. Mohon maap. Saya emang enggak jago motret :(





Tapi kalau foto-foto buat dp ya saya sedikit-banyak bisa lah ngaturnya.
Siapa tau abis ini ada yang mau difoto sama saya #otakbisnis
 


Nah, ini tempat lucu.
Jadi masuk ke ruangan kotak gitu, di langit-langit ruangan ini ada kerupuk-kerupuk gitu. Saya totally enggak paham kalau yang ini. Tapi suasanya dibuat hitam semua. Dan kalau enggak salah ya bawahnya tuh batu-batu gitu.


Ganteng enggak?
Jangan naksir ya.
Berat.
Kamu enggak akan kuat.
Aku aja ogah.


Tuh kan, bawahnya batu-batu.
#alasan
Padahal fotonya bagus aja, mau upload.
Yew.

Nah, kan paviliunnya luas ya. Ada dua bagian gitu. Abis dari sini, saya ke gedung sebelahnya.

Sebelum liat hasil jepret-jepretan, saya mau cerita.
Di gedung sebelahnya ini, ada ruangan-ruangan yang di dalemnya gelap dan hanya diterangi dari semacam presentasi yang menayangkan cerita (dalam bentuk tulisan ya bukan kayak film gitu). Dan di dalam ruangan itu dikasih musik. Salah satu ruangan yang saya sangat suka adalah ruangan yang berisi lagu bengawan solo. Ada semacam presentasi dari proyektor, yang saya baca cuma setengah, karena selebihnya saya menutup mata dan menikmati suasana ruangan itu. Cukup cahaya tapi tidak mengindahkan sisi gelapnya, lantunan lagu Bengawan Solo, diiringi alat-alat perkusi, yang tidak terlalu keras namun cukup untuk menutupi suara-suara gaduh lainnya. Aduh, saya jatuh cinta banget deh pokoknya. Saya sampai bilang ke kakak saya, "Saya mau punya kamar kayak gini. Persis kayak gini."

Sayangnya, saya enggak sempet merekam dan enggak mungkin juga difoto, karena bisa mengganggu penikmat yang lainnya.
Pernah enggak sih punya moment dalam hidup yang udah kebawa suasana banget, saking bahagianya, saking nyamannya, saking enggak mau kelewatan satu detik pun dari moment itu, jadi enggak kepikiran buat mengabadikannya. Pokoknya harus dinikmatin sampai abis saat itu juga.
Itu yang saya rasain saat itu.
Dan saya pengen ngerasain itu lagi, sangat pengen.

Oke, lanjut.


Ini lucu banget tiba-tiba ada si ratu ini.





Harus saya katakan, saya liat ini merasa sedikit jijik. Saya ngebayangin tekstur kulit manusia kalau diliat detailsnya. Kebayangnya kayak gini. Kering-kering gitu. Padahal mah kayaknya enggak ada hubungannya dah -_-



Ini sebenarnya dibuat selayak mading gitu.
Nah, saya tertarik sama yang ini.
Kertas tulisan "MASA KECIL" tapi ujungnya dirobek rapih (enggak tau sengaja atau ada yang iseng) tapi saya malah mikir ini kayak representasi kebanyakan dari masa kecil. Ada yang entah rusak, kurang, atau tidak seharusnya ada di masa kecil. Jadi kayak ada scars atau bekas luka gitu di masa kecil. Rasanya sedih-sedih tapi lucu gitu ngeliat dan mikirinnya.




Ini gemes banget :'D




Saya suka mengabadikan orang yang lagi mengabadikan, especially him.
Mungkin karena saya ingin terus mengingat ini, mengingat kalau dia ialah salah satu orang yang bisa menikmati hal semacam ini bersama saya.



Di sini saya sama kakak saya ngobrol, kayak "Apa sih yang kamu lihat di gambar ini?"
Kalau kakak saya bilang, gambaran wanita di kiri adalah wanita yang sudah tua, renta, dan memiliki banyak pengalaman. Dilihat dari ukiran tanaman-tanaman di dalam tubuhnya, semuanya digambarkan lembut dan teratur dengan warna abu-abu yang samar dan rapih, yang berarti dia sudah cukup mengenal dirinya sendiri. Sedangkan wanita di gambar sebelah kiri memiliki ukiran tanaman yang masih berantakan, warnanya yang gelap bulat, masih banyak space yang belum terisi di sekitarnya. Menandakan seorang remaja yang masih mencari jati dirinya, masih belum berpengalaman, dan masih ingin tahu. Kasarnya ya belum matang lah gitu.

Kalau saya sih ya kurang lebih sama, cuma saya lebih lihat perbedaan dari kedua wanita itu adalah ambisi di dalam dirinya, hal-hal yang sudah mereka lewati, dan bagaimana mereka bersikap kepada dunia luar dan terhadap diri mereka sendiri. Misalnya, wanita di sebelah kiri adalah wanita yang lemah lembut dan tidak memiliki ambisi yang begitu besar sehingga yang dia lewati ya begitu-begitu saja. Hingga semua tanaman di dalam dirinya tumbuh begitu wajar dan memiliki pola pelan dan rapih. Namun wanita di sebelah kiri memiliki ambisi yang begitu besar, hingga dia dengan berani melewati apa saja untuk mencapai keinginannya, hingga mungkin hal-hal yang dapet merusak dirinya sendiri. Sehingga tanaman-tanaman di dalamnya ada yang rusak, tidak teratur, berwarna tidak sehat. Dan karena itu keduanya memiliki cara pandang berbeda mengenai diri mereka sendiri, masing-masing memiliki cara sendiri untuk membentuk diri mereka sendiri.

Di situ kecantikannya. Perbedaan pandangan, perbedaan cara, namun ditumpahkan menjadi seni. Juga perbedaan pengertian dari kakak saya dan saya, juga mungkin orang-orang lain yang melihat ini.

Perbedaan adalah sesuatu yang indah.

Ya, kurang lebih begitu.
Siapa tau teman-teman punya pandangan lain. Monggo.


Gambar wanita itu adalah yang terakhir yang kami lihat di gedung tersebut. Setelah itu kami keluar lagi ke gedung yang sebelumnya. Dan kami disambut sama karya yang satu ini (diletakkan persis di depan pintu keluar gedung yang satunya lagi).


Ini lucu sih, saya nangkepnya kayak semacam "hinaan" buat perayaan ulang tahun. Dilihat dari bahan dasarnya yaitu tanah, menandakan darimana kita semua berasal, terus bentuknya yang diserupakan dengan kue ulang tahun, ada juga peragaan-peragaan kue ulang tahun beserta lilin-lilinnya. Jadi kayak,
"Apa sebenarnya yang kamu rayakan di hari ulang tahun? Satu tahun lebih dekat kembali ke asal mu?"
:)


NAAAHHH.
Sebenernya petualangan di Biennale sampai di situ aja yang kami potret. Tapi abis itu kami ke paviliun samping, yang ternyata ada pameran juga. Nah super sayang karena saya cuma punya satu potret.



Yang ini bisa dikatakan SANGAT MENYEDIHKAN.
Bayangin di bumi cuma tinggal ada satu pohon, itu pun sudah menuju mati, tidak ada daun, buah. Hanya ada sisaan batang-batang. Sendirian. Kering. Mau mati. Dan mas nya di situ menggambarkan penyesalan kita semua nanti saat menyadari segalanya adalah sebab ketidakpedulian dan kezaliman manusia itu sendiri. Kita yang merusak, dan pada akhirnya kita juga yang menangisi. Bisa juga menggambarkan manusia yang menjaga dengan baik pohon terakhir itu sih. Tapi saya lebih suka menggambarkannya dengan penyesalan dibandingkan menjaga. Kayak, sudah terlambat gitu.

Terimakasih untuk mas nya :')

Dan sebenernya di sini ada satu ruangan lagi yang mirip sama ruangan yang saya ceritain sebelumnya. Bedanya ruangan ini bukan diiringi lantunan lagu. Tapi suara anjing-anjing bergerombol yang menggonggong terus-menerus. Yang saya suka sebelum masuk ruangan ini kita disarankan masuk pelan-pelan, duduk pelan-pelan, dan menutup mata. Ada tulisannya gitu di depan pintu. Dan itu yang saya lakukan. Lagi-lagi saya dan kakak saya mengalami perdebatan dengan diri sendiri yang kami bagi satu sama lain.

Kakak saya merasa bahwa saat mendengar anjing-anjing itu, mereka ada, nyata, sedang menggonggong di dekat dia dan bergerumul di kaki dia. Kebetulan, kakak saya sangat menyukai sensasi ini.
Kalau saya merasa bahwa ada seorang perempuan meminta pertolongan karena sedang diperkosa oleh segerombol laki-laki bajingan. Dia berteriak hingga hanya para anjing itu yang menyadari bahwa ada manusia dalam kesulitan. Para anjing menggonggong kepada penduduk sekitar mencoba memberitahu bahwa ada sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi. Dan mereka pergi ke sumber suara. Bukan favorite saya namun cukup bikin terpesona sih sensasinya.

Dan itulah yang mengakhiri petualangan kami di Jakarta Biennale 2017.
Sungguh permainan khayalan dan siraman batin yang cukup mengguncang sih, menurut saya. Saya dan kakak saya terpuaskan lah pokoknya. Karena kami cukup lelah dan lapar, kami makan di kantin Gudang Sarinah. Walaupun lumayan mahal #ekhem tapi cukup banyak pilihan dan rasanya ya enggak bisa dibilang enggak enak lah.
Setelah itu kami pulang naik ojek online (mobil) ke Stasiun Duren Kalibata lagi, transit di Stasiun Manggarai, transit lagi di Stasiun Tanah Abang, dan pindah jalur kereta, naik sampai di Stasiun Jurangmangu. Dari situ kami naik ojek online lagi sampai di rumah.

Saya bahagia sih. Puas banget. Dan masih terbayang-bayang ruangan Bengawan Solo tadi haha. Pokoknya Jakarta Biennale 2017 top deh! Sampai #ArtsVenture kami, jangan lupa dateng ke Jakarta Biennale 2018 dan seterusnya ya. Penasaran banget konten kayak apalagi yang akan dipamerkan hihi.
Nah untuk kalian yang penasaran ya mohon maap kalau tulisan saya sangat terbatas, namanya juga cuma mau cerita di blog sendiri :( jadi kalau mau tau lebih banyak lagi tentang Biennale silahkan ke websitenya langsung: http://jakartabiennale.net/en/home/
Walaupun acaranya udah berakhir, siapa tau kamu-kamu kepo artists yang ikut serta siapa aja, ya kan.
Monggo dikulik.

Ya udah yaaaaaa! Sampai di situ aja saya berbaginya. Next, saya mau berbagi #ArtsVenture lagi pokoknya. Karena ini menyenangkan :') ciao!

Comments

Popular posts from this blog

마지막 The Last - Agust D (Min Yoongi/Suga)

That's okay // Tidak apa-apa

the art of living together