#DearPakAhok

Pak Ahok, nama saya Dinda.
Umur saya masih 19 tahun, satu tahun lebih mudah daripada teman-teman sebaya saya. Jadi biasanya saya adalah anak bontot di mana-mana, gak di rumah, gak di antara teman-teman. Kalau anak bontot biasanya gak boleh berpendapat terlalu ngotot karena dianggapnya masih kecil dan belum banyak pengalaman, saya gak mau dibilang sotoy, jadi tulisan ini saya haturkan untuk bapak saja dibanding dibilang sok-sokan mengomentari.

Pak, mungkin yang saya mengerti dari kasus bapak hanya secuil dari kenyataannya. Tapi boleh kan saya menyampaikan pendapat saya atas apa yang saya dengar?
Gara-gara salah ngomong mengenai surat Al-Maidah Ayat 51, bapak hari ini divonis penjara 2 tahun. Jujur, saya sempat berpikir "Whoa, karma does exist." bapak ingat tidak dulu bapak menyusahkan banyak sekali anak sekolah? Terutama kami para pendaki gunung tingkatan anak SMA. Efek jera bapak dengan langsung drop out siswa-siswa yang terkena kasus bullying atau tawuran memang saya akui efektif, melihat teman-teman saya yang (bisa disebut) menjadi korban ketegasan bapak itu sekarang mereka menjalani hari-hari mereka dengan lebih dewasa dan cukup banyak yang masuk perguruan negeri yang mereka impi-impikan. Tapi pak, tetep aja. Dulu bapak nyusahin banget.

Yang masih bikin saya gak habis pikir adalah kegiatan alam bebas gak boleh naik gunung di luar Jawa Barat, terakhir saya denger bolehnya cuma di daerah Jabodetabek. Coba bapak pikir apa yang mau di explore di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, sama Bekasi? Jangankan gunung, sungai buat sekadar rafting boro-boro ada, segitu ngefansnya kali bapak sama Ciliwung? Tapi di sana gak bisa rafting pak. Sia-sia dong kami dididik dan diajarin tentang kegiatan alam bebas kalau yang kami singgahi cuma di sebelah badan?

Emang cuma bapak yang bisa.

Dulu saya gak suka juga sama bapak karena katanya bapak itu galak, memecat orang sembarangan gak pake na na nu nu. Saya mikir "Gak mikir apa nih orang yang dipecat punya banyak tanggungan pulang ke rumah." seenggaknya kalau mau diberhentikan ya baik-baik gitu loh pak. Masuk baik-baik keluarnya jangan sampai ada dendam antara kita~ #loh #salah. Saya cuma denger doang kalau bapak tabiatnya begitu, gak pernah ngerasain langsung juga. Sering sih berceloteh sama temen-temen "Yok datengin aja dinasnya ngomong sama Ahoknya langsung." yang akhirnya hanya akan jadi wacana. Mungkin karena kami masih pada sayang orangtua kali ya, sekolah susah-susah dibiyain ini itu malah mau ngegrebek dinas. Siswa macam apa ini?

Kejadian belakangan ini mungkin sakit hatinya orang-orang yang numpuk sama bapak (gak saya pungkiri, saya juga). Yang setelah saya pikir-pikir, bapak kayak gitu bukan karena bapak mau kayak gitu. Lah wong bapak dididiknya emang begitu, keras, tegas. Masa mau nyalahin latar belakang? Cuma emang bapak salah lapangan kali ya. Perlu pelan-pelan ditusuk kali nih emang orang-orang negara ini.

Lalu, mengenai putusan untuk bapak, kok saya gak bersyukur ya? Saya gak happy. Saya gak suka kalau saya gak happy, jadi saya nulis deh.

Keputusan-keputusan bapak yang bikin saya susah dulu pas SMA, akhirnya saya mengerti kalau itu adalah ketegasan dengan kejujuran. Bapak terlalu jujur ketakutan kalau sampai jatuh korban, apalagi anak muda. Bapak terlalu manusiawi dan memikirkan ke depan maka bapak membatasi dengan keras di masa sekarang. Hanya saja kami generasi muda terlalu kritis menghadapinya, itu sudah jelas adalah tugas kami. Saya rasa bapak hanya belum siap menanggapi kekritisan itu, jadi bapak serba protective tanpa ada solusi. Tapi untuk kasus bapak sekarang, aduh, saya gak melihat apa faedahnya menghukum bapak sebegitu beratnya?

Ketegasan "mereka" itu tidak dengan kejujuran, dan bagi saya itu sangat sia-sia.
Sibuk sekali mereka menyiapkan kata-kata, cemooh, tuduhan, dan fitnah untuk diteriakkan di Kota, berbondong-bondong mereka pergi dengan serba-serbi putih dari atas sampai bawah, dan ngeselinnya lagi, ada yang bawa anak kecil pula. Biar apa? Biar anak itu melihat aksi para orangtuanya "mencekik" sesama manusia?

Mau teriak-teriak kek.
Mau pake putih-putih, merah-merah, apapunlah.
Saya bodo amat.
Tapi kalau sudah bawa-bawa anak kecil, mempengaruhi orang, dan semacamnya.
Bagi saya sudah masuk kategori manusia goblok. Sudah gak ada akal sehat dan hati nurani. Sudah berganti hidup binatang dalam dirinya membuatnya berperilaku hanya dengan insting serakah saja.
Saya sangat gak suka pak sama orang-orang semacam itu. Saya lihat di stasiun Manggarai pada ramai-ramai mau ke arah Kota, mau demo, aksi empat apalah itu, sampai kereta ke arah Jakarta Kota penuh sekali dan bau ketek. Bener-bener deh. Capek-capekan cuma untuk menjatuhkan seorang Bapak Ahok.

Emang cuma bapak yang bisa.

Karena kalimat "Jangan dengarkan orang-orang yang menggunakan Surat Al-Maidah ayat 51 untuk ..." yang saya gak tau persisnya dan gak tau lanjutannya juga, saya gak begitu melek politik dan gak tertarik juga. Cuma kalau seru aja saya baca-baca. Karena kalimat itu bapak dibilang menghina suatu agama yang kebetulan agama saya juga (bawaan dari orangtua). Saya gak tau deh itu beneran masuk "penghinaan" "penistaan" atau apalah, saya bukan ahli agama dan gak mau juga sok-sokan ngerti agama. Tapi kok menurut saya gak sepadan ya dengan apa yang sudah bapak dapatkan sebagai hukuman? Dipenjara? Buat apa? Belum puas juga seseorang yang memiliki kompetensi sebagai pemimpin, sudah berjasa banyak membenahi Ibu Kota, sudah banyak membuka kedok korupsi, fearlessly honest, dan orang penuh kualitas yang masih belum semuanya terkupas, dia telah kalah dari pemilihan hanya karena orang-orang dengan sudut pandang yang terlalu runcing? Yang katanya Tuhan menghindari perang dengan "mengalahkan" bapak, tapi menurut saya lebih karena Tuhan mau kita berkutat lagi di kebodohan-kebodohan sebelumnya. Mungkin menurut Tuhan kita belum siap. Iya, jujur, saya rasa emang belum siap sama sekali.
Jadi buat apalagi dipenjara? Lupa ya kalau dia punya keluarga? Atau pura-pura tidak tahu yang penting "menang"?

Sudah gak ngerti lagi bagaimana Bapak Ahok menanggapi ini semua.

Banyak ahli agama yang sering salah ngomong, salah tafsir, dan salah ceramah, tapi kok gak pernah dicekal? Karena apa? Karena tau dia seorang ahli, salah-benar dia pun belum tentu kita tahu kan. Ini hanya karena yang ngomong bukan pemeluk islam, ada darah Cina, sipit, dan rada ganteng langsung bak buk bak buk "PENISTAAN!"?
Pak, makanya, kalau lagi ngomong jangan suka keterusan. Bablas angine kan bapak sendiri yang repot sekarang. Yang namanya mayoritas kalau sudah satu kata, Tembok Berlin juga dihantam. Makin banyak makin aaaammaaaannnnn~~ mati satu tumbuh seriiiibbbuuuu~~ salah ngomong banyak yang belaaaaiiiinnnn~~

Lah bapak?
Udah jelas banyak yang gak suka. Masih juga pake salah ngomong. Apes bener dah.

Seperti kata-kata bijak yang sering saya dengar, seribu kebaikan akan terlupakan hanya dengan satu kesalahan.
Jangankan bapak, sudah banyak kok anak bunuh orangtua hanya karena masalah sepele. Khilaf karena gak dikasih uang jajan atau gak dibeliin iPhone keluaran terbaru, belom lagi kalo dilarang kawin. Ckck.

Hari ini saya menangis bukan menangisi nasib bapak, Tuhan sudah tulis cerita buat bapak, tinggal bapak sendiri yang menentukan jalan cerita yang mana yang baik buat bapak. Di Psikologi Humanistik, Abraham Harold Maslow bilang manusia harus menjalani kehidupannya dengan mengoptimalkan potensinya dan menuju ke arah yang bersifat transendental yaitu Tuhan. Ya bapak harus semangat dan makin canggih berpikirnya supaya waktu bapak gak terbuang 2 tahun di dalam bui, bapak juga harus makin sering curhat sama Tuhan bapak karena sekarang kalau bapak curhat depan hakim atau depan para putih-putih itu gak bakal didengerin lah pasti, udah pada kuping badak semua, cuma Tuhan yang bisa bantu bapak sekarang. Mungkin juga antek-antek politik bapak. Ya bapak atur sendiri aja deh.

Saya menangisi kemanusiaan yang makin diinjak-injak, salah satunya karena alasan religi. Kesetaraan sudah tidak mungkin lagi di negara ini, mati ditelan mayoritasisasi (is that even a word? well whatever). Jangan aja nanti saya berdoa di klenteng saya ditendang keluar akibat dari generalisasi pemeluk islam yang diwujudkan para haters bapak. Saya takut pak. Kasus bapak berefek ke semua perihal. Termasuk keyakinan saya sendiri. Saya mau nangis karena rasanya space yang tadinya kecil sekarang makin kecil karena saya merasa terancam, gak tau kenapa. Walaupun saya rada senang nanti kalau saya jadi psikolog calon pasien saya udah keliatan nih batang-batang idungnya. Tinggal nunggu Tuhan ngebantuin saya aja.

Alhamdulillah rezeki sudah ada yang mengatur (katanya), pak. Walaupun nasib bapak kelewat apes dan berefek ke nasib saya (nantinya, mungkin). Sering orang bilang, hasil gak akan pernah mengkhianati usaha. Saya belom kaya, ilmu saya masih kurang, ada seseorang yang pernah bilang ke saya "Mungkin tunggu nanti kalau lu sudah jadi orang, sudah dewasa, dan sudah bisa hidup sendiri. Lu bakal bisa ngelakuin apapun yang lu mau." saya percaya sih sama dia pak, soalnya saya ngerasain langsung. Cuma bapak aja yang hitungannya sudah jadi orang masih digituin, lah kan saya bilang, bapak lagi apes. Field bapak juga politik sih, di negara ini pula, jadi sementara ini bapak harus banyak-banyak semangat dan doa. Kalau buat saya, ya saya harus semangat juga, gak usah muluk-muluk, saya cuma mau bisa jadi manusia seutuhnya yang bisa lebih banyak bersyukur dan berbahagia. Gak susah kan harusnya? Semoga aja dimudahkan. Meskipun saya dikelilingi kegagalan-kegagalan kemanusiaan ini. Huft.

So, dear pak Ahok. Saya bisa bilang bapak bukan kalah, justru menurut saya bapak sudah menang. Bapak mengajari banyak hal tanpa saya sadari. Terlebih kasus bapak membuktikan hal-hal penting dalam berkehidupan khususnya dalam menghadapi "mereka". Terimakasih untuk perubahan-perubahan yang tadinya selalu di "tidak mungkin" kan menjadi mungkin karena bapak. Semangat buat bapak. Sudah kehendak Tuhan bapak harus tutup buku dulu, istirahat dulu. Nanti berjuang lagi ya pak. Biarin aja mereka tenggelam dengan kebodohan mereka, bapak cuma akan kehilangan 2 tahun, mereka kehilangan seumur hidup mereka sebagai manusia. Saya masih berdoa bapak dimudahkan. Sama seperti saya mendoakan mereka untuk dimudahkan juga dalam hal berpikir dan berhati nurani.

Salam,

Comments

Popular posts from this blog

마지막 The Last - Agust D (Min Yoongi/Suga)

That's okay // Tidak apa-apa

the art of living together