Kukatakan pada lara, aku sudah biasa. Karena bertahan pun dia takkan mengerti. Karena ada untuknya pun dia tidak butuh. Karena mencoba mengutarakan terlalu berani. Biar kujaga dia dalam diam. Kunikmati dengan tenang. Kusayangi dalam doa. Tuan, pesanku hanya satu. Berbahagialah. Aku mengerti bahwa aku tidak mampu. Tidak cukup baik untuk mu. Aku bukan yang kamu mau. Hanya tempat singgah, yang tak bikin betah. Selamat mencari perteduhan lainnya. Aku lebih dari mengerti resikonya kalau aku pergi. Tapi kepercumaan ini menggerayangi keyakinan ku. Dan kamu tidak di sini untuk menolong ku. Dan kamu punya urusan mu sendiri. Kalau kamu tak kunjung paham. Maka aku pamit, Tuan. Semoga bahagia, Puan.